Pada tanggal 08 Februari 2005, aku, suamiku Johan, anak - anakku Sandra dan Daniel, orangtuaku, mami dan papi, beserta adik iparku Nurhandayani berangkat dengan tujuan Bandar Lampung pada pukul 23.00.
Kita ber 7 naik mobil Xenia biru.
Sampai di Merak subuh dini hari, kami singgah di tol persimpangan Merah untuk melepaskan kepenatan. Sekedar membeli makanan ringan yang ternyata harganya cukup mahal dibandingkan harga biasa.
Siap - siap menyebrang jalan kira - kira jam 7 pagi dan sesampainya di bakauheni pada kira - kira jam 9 pagi.
Udara pagi memasuki kota Kalianda cukup indah pantai terhampar dilatar belakangi pemandangan pegunungan yang tidak akan di dapatkan pemandangan seperti itu di pulau Jawa, pasir putihnya yang terlihat dari jalan raya, kapal - kapal yang berlayar,...sejuk kebetulan cuaca mendung. Kami singgah di RM Padang Bagadang untuk mengisi perut, karena sepanjang jalan didominasi oleh RM Padang.
Kami melanjutkan perjalanan sampai Tulang Bawang. Sepanjang perjalanan kami tidak menemui hambatan. Cuaca cukup baik dan cukup banyak pompa bensin yang tersedia sepanjang Kalianda hingga Tulang Bawang.
Sebelum sampai Tulang Bawang, kami singgah untuk membeli buah durian yang banyak dijajakan di sepanjang jalan, cuman nama daerahnya aku lupa. Ternyata harga durian di sana tidak murah juga karena sebiji Rp. 15.000.
Rasa duriannya seperti ketan agak lengket dan lumayan manis meski masih segar. Kata penjualnya baru datang dari gunung.
Sampai di Tulang Bawang pukul 15.00. Udara sangat panas.
Tidak ada objek wisata menarik di Tulang Bawang, juga makanan yang enak tidak saya temukan. Mencari penginapan tidaklah sulit. Seharga Rp. 75.000 kami sudah mendapatkan kamar yang lumayan bersih dan ber AC.
Malam hari kami putar - putar mencari makanan. Tidak ditemukan makanan yang enak, kami hanya makan gurami goreng tepatnya gurami bumbu tepung tidak crispy, pecel dengan rasa standart saja.
Pagi pukul 7 kami siap - siap pulang menuju Jakarta.
Kami singgah di persinggahan sebelum Kalianda untuk membeli oleh - oleh keripik pisang, dan kemplang. Juga hiasan dari kerang yang diminati anakku.
Penyebrangan kembali ke Merak tidak kami temui hambatan yang berarti meski penyebrangan kembali relatif lebih lama dibanding berangkat, sehingga kami punya waktu untuk berkeliling di kapal feri. Ternyata kebersihan kapal jauh dibawah standart, kamar mandi kotor dan tidak ada airnya. Di ruang tunggu penuh sesak oleh asap rokok disamping pengunjung yang membludak hingga memenuhi koridor dan tangga naik dan tangga turun.
Kami sampai Jakarta kira - kira jam 2 siang. Kami menuju Tanggerang untuk singgah di Super Mall Karawaci. Anakku Daniel memuaskan hobbynya untuk bermain di Time Zone. Sementara aku, suamiku dan kedua orang tuaku menikmati makan siang di area Time Zone.
Putar - putar di Area Super Mall, hingga Hypermarket.
Kami pulang menuju Bogor untuk bermalam di Bogor.
Kami mendapat penginapan di daerah Cisarua, sebenarnya kami hendak bermalam di Puncak, tapi berhubunga jalanan macet, dari Cisarua sudah di blokir, maka kami kembali memasuki kota Bogor dan bermalam di sana. Nama hotelnya aku lupa.
Dari Bogor pagi hari kami meneruskan perjalanan menuju Taman Safari.
Sempat beli jagung di perjalanan menuju Taman Safari, banyak dijumpai laba - laba besar yang membuat sarang di antara tiang listrik.
Sampai di Taman Safari, kami dipungut biaya kendaraan dan orang sebesar Rp. 202.000.
Putar - putar melihat - lihat binatang di Taman Safari tak terasa sudah menunjukkan jam 11 siang. Kami singgah di restaurant yang ada satu - satunya di area Taman Safari.
Kami sempat terperangah dengan harga makanan yang sangat mahal. Seporsi mie bakso saja dihargai 18.000 yang belum ditambah pajak pelayanan sebesar 10%.
Tapi karena udara dingin menusuk tulang, ditambah hujan deras, dan anak - anakku tampaknya sudah merasa lapar, kami memesan bakso dan teh hangat.
Sambil menikmati hidangan lumayan kami disuguhi oleh atraksi gajah yang tepat berada di bawah restaurant tempat kami makan.
Total kerusakan dompat kami di atas 200.000.
Dari Taman Safari kami menuju Cianjur, untuk membeli oleh - oleh manisan, moci dan keripik kaki ayam. Sayang keripik kaki ayam yang dibanggakan oleh pemilik toko ternyata pahit dan berbau tengik.
Kami terus meluncur menuju Bandung.
Setelah hampir kesasar kesana - kesini, kami ketemu juga dengan Pekong Agan yang sakit - sakitan. Dari sana kami menuju Taman Rahayu tempat keluarga Ie - ie berada. Sempat nyasar beberapa kali sampai akhirnya kami di jemput di depan restaurant Hoka Hoka Bento.][
Singgah di rumah ie - ie untuk makan malam, lalu kami pulang menuju Cirebon.
Perjalanan Bandung Cirebon, kami singgah di Sumedang untuk mengisi perut pada sekitar jam 12 an.
Sempat juga suamiku melihat mahluk yang kasat mata di daerah Tanjung Sari, berhubung kami melewati daerah tersebut pada saat tengah malam sekitar pukul 24.00.
Kami sampai di Cirebon pada pukul 3 dini hari.
Perjalanan ini nyaris tanpa hambatan yang berarti.
Puji Tuhan kami panjatkan karena kami sekeluarga diberi kesempatan untuk berjalan - jalan bersama.
Phalaenopsis 1
16 years ago
No comments:
Post a Comment